Banyak orang tua sering mengeluhkan betapa sulitnya mengajak anak duduk tenang dan fokus saat belajar atau mengerjakan tugas sekolah. Baru lima menit membuka buku, si kecil sudah gelisah, minta minum, atau teralihkan oleh mainan di sekitarnya.
Kabar baiknya, rentang fokus (attention span) anak bukanlah sesuatu yang kaku. Fokus adalah kemampuan kognitif yang bisa dilatih dan diasah melalui kebiasaan harian yang menyenangkan.
Berikut 5 kebiasaan kecil berbasis neurosains dan psikologi perkembangan yang bisa Anda terapkan mulai hari ini di rumah:
1. Terapkan Metode “Chunking” (Pecah Tugas Jadi Porsi Kecil)
Otak anak mudah merasa kewalahan jika melihat tumpukan tugas yang banyak sekaligus. Terapkan metode belajar 15–20 menit yang diselingi dengan istirahat gerak 3–5 menit (brain break).
2. Rapikan Meja Belajar dari Distraksi Visual
Meja belajar yang penuh dengan pernak-pernik atau gawai yang menyala di dekatnya akan memicu otak anak untuk terus berpindah fokus. Cukup sediakan buku dan alat tulis yang sedang dikerjakan.
3. Rutinitas Gerak Fisik Sebelum Belajar
Penelitian menunjukkan bahwa aktivitas fisik ringan seperti melompat, bersepeda, atau senam peregangan 10 menit sebelum belajar mampu mengalirkan oksigen segar ke otak dan mengaktifkan neurotransmitter dopamin yang bertanggung jawab atas konsentrasi.
4. Libatkan Indra Lewat Pembelajaran Multisensori
Anak belajar lebih fokus saat mereka tidak hanya membaca teks mati, melainkan juga menyentuh objek nyata, menggambar diagram warna-warni, atau menyusun balok logika.
5. Beri Ruang untuk Menyelesaikan Apa yang Dimulai
Latihlah anak untuk menuntaskan satu puzzle atau satu halaman mewarnai sebelum beralih ke aktivitas lain. Pujilah proses dan kegigihan mereka saat berhasil menyelesaikan tugas dengan penuh konsentrasi.

